Jumat, 15 Maret 2013

Penangan Hasil tangkapan/Ikan




Tahap-tahap penanganan;

_ Mengangkat ikan dari air
_ Melepas ikan dari alat tangkap
_ Mendinginkan ikan
_ Menyiangi ikan apabila diperlukan
_ Mencuci ikan dengan air dingin
_ Menempatkan ikan dalam wadah portable sesuai dengan jenis,
ukuran dan mutu ikan (sortasi/seleksi) serta memberinya es
dengan jumlah yang cukup.
_ Menyimpan didalam palkah berisolasi dengan es.
_ Merawat ikan selama penyimpanan sampai dengan saat
pembongkarannya di pangkalan pendaratan ikan (PPI) atau
pelabuhan perikanan.
Tujuan penangan;
1.    Untuk mengusahakan agar kesegaran ikan dapat dipertahankan selama mungkin atau setidak-tidaknya masih cukup segar sampai ikan ketangan komsumen.
2.    Untuk mempertahankan kualitas produk perikanan.
3.    Untuk menambah nilai jual tangkap.
4.    Untuk menjamin kesehatan dan kebersihan hasil tangkap.
5.    Agar mutunya tidak menurun, sehingga menyebabkan rendahnya harga jual.

         A.        PENANGANAN CEPAT

Dalam industri perikanan, kesempurnaan penanganan (handling) ikan segar memegang peranan penting.  Baik burukya penanganan menentukan mutu ikan sebagai bahan makanan atau bahan mentah untuk pengolahan lebih lanjut. Kalau penanganannya buruk, ikan akan cepat rusak/busuk, sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi.

Penanganan ikan segar bertujuan untuk mengusahakan agar kesegaran ikan dapat dipertahankan selama mungkin, atau setidak-tidaknya masih cukup segar waktu ikan sampai ke tangan konsumen.  Jadi begitu ikan tertangkap dan diangkut ke atas kapal, harus secepat mungkin ditangani dengan baik, benar dan hati-hati.  Demikian selanjutnya sampai ikan disimpan beku (di dalam cold storage) atau diolah (misalnya dengan pengalengan) atau langsung dimasak untuk dimakan.

Daging ikan (termasuk hasil laut lainnya seperti udang dan kerang) sangat cepat membusuk.  Penanganan bagaimanapun baiknya dilakukan, tidak akan mungkin membuat ikan tetap segar 100 %.  Tetapi yang diusahakan adalah menghambat proses pembusukan (penguraian jaringan) sehingga ikan dapat disimpan selama mungkin dalam keadaan baik.

Dalam penanganam ikan, harus selalu diusahakan agar suhu selalu rendah, mendekati 00 C.  Harus selalu dijaga jangan sampai suhu ikan naik, misalnya karena kena sinar matahari langsung atau kekurangan es selama pengangkutan.  Sebab makin tinggi suhu, kecepatan membusukpun akan juga makin besar.  Sebaliknya, bila suhu ikan selalu dipertahankan serendah-rendahnya, maka proses pembusukan bisa diperlambat. 

Para nelayan Indonesia yang menangkap ikan dengan perahu dayung, kapal layar atau perahu-perahu motor kecil (motor tempel) jarang yang meng-es ikannya sehingga sesampainya di pasar sering ikan-ikan itu sudah membusuk.  Tapi bila penangkapannya hanya memerlukan waktu semalam, kebanyakan ikan-ikan tersebut masih cukup segar waktu dijual, itupun sangat tergantung bagaimana perlakuannya sesudah ditangkap.  Sebenarnya banyak nelayan yang menyadari, bahwa untuk mendapatkan harga jual yang tinggi  maka ikan harus tetap segar.  Persoalannya hanyalah kurangnya kemampuan membeli es dan daya muat kapal yang terlalu kecil untuk peng-es-an di laut. 
Sedikit banyak harus pula diketahui sifat-sifat ikan, yang merupakan bahan makanan yang mudah membusuk atau rusak itu.  Kesegaran ikan yang tidak banyak berontak ketika ditangkap, akan lebih lama bila dibandingkan dengan ikan-ikan yang lama berontaknya.  Ikan pancingan biasanya kesegarannya lebih lama bila dibandingkan dengan ikan yang tertangkap dengan gill-net atau trawl (jaring udang atau pukat harimau). 

Usaha lain untuk mempertahankan kesegaran adalah menutupinya dengan kain atau daun basah.  Dengan menguapnya air pada lapisan penutup itu, suhu ikan menurun.  Juga harus dicegah supaya ikan tidak   kena sinar matahari langsung, karena pada suhu yang lebih tinggi, pembusukan akan berjalan lebih cepat. 

         PENYORTIRAN

Sebelum jaring diangkat ke atas dek, segala peralatan yang nantinya bersentuhan dengan ikan hendaknya dicuci bersih terlebih dahulu.  Setelah ikan sampai di dek, bersihkan segala kotoran yang ikut terjaring (yang besar-besar).  Kemudian, cuci ikannya dengan cara menyemprotkan air laut sampai segala kotoran yang kecil seperti lumpur, rumput laut dan binatang-binatang yang tidak dimanfaatkan, terpisah dari ikan.  Selanjutnya sortirlah ikan menurut jenis, besar dan harga di pasar.  Misalnya ikan kakap atau tenggiri, harus ditangani lebih dahulu.  Sebaiknya sortiran ikan tersebut diletakkan di wadah yang berlainan.  Jangan sampai terjadi ikan kakap dicampur dengan ikan tenggiri atau kembung.

Sedangkan penyiangan ikan antara lain ditentukan dari ukuran badannya.  Ikan-ikan kecil seperti lemuru atau kembung, tentu saja tidak perlu disiangi sebab mudah rusak.  Lain halnya dengan ikan kakap, yang kulitnya (terutama dinding perut) relatif lebih kuat.  Penyiangan juga tidak dapat dilakukan bila hasil tangkapan banyak sekali.  Pekerjaan ini juga tergantung dari tindak lanjut pengolahan dan permintaan pasaran. Bila akan dikemas dalam kaleng atau diolah menjadi “filet” ikan tidak perlu disiangi.  Demikian pula jika akan dijual di pasar sebagai ikan segar.

Setelah dilakukan penyortiran menurut jenis dan besarnya, ikan harus secepat mungkin dicuci.  Pencucian hendaknya memakai air laut yang bersih.  Bila perlengkapan memungkinkan (seperti pada kapal-pabrik/factory ship; dimana misalnya, dapat dicuci dengan air dingin) prinsip rantai dingin harus segera diterapkan.  Ikan-ikan yang sudah disiangi, dicuci bersih.  Karena sisa lendir, isi perut dan kotoran lain yang masih melekat perlu disingkirkan.


Beberapa hal lain yang perlu diingat adalah :

a.      Jangan meletakkan ikan segar/baru di atas ikan yang lebih tua usia tangkapnya dan  sementara menanti giliran penyiangan, tanganilah dahulu ikan yang lebih dahulu tertangkap.
b.     Jangan menginjak ikan atau menyentuhnya dengan kaki karena ikan akan rusak dan cepat membusuk.
c.      Siangi dan simpanlah ikan kecil sebelum ikan yang besar, sebab ikan yang berukuran kecil lebih cepat membusuk.
d.      Sedapat mungkin siangilah ikan selagi hidup, dagingnya akan kelihatan lebih putih (karena hatinya terus memompakan darah ke luar selama penyiangan hidup-hidup).
e.      Ikan besar yang telah disiangi, cucilah dengan tangan terutama pada  bagian perutnya (terutama bagi ikan-ikan besar, ikan tuna misalnya).
.       Ikan-ikan kecil dapat dicuci dalam keranjang terbuka atau dalam tangki dengan air mengalir.  Tiriskan ikan setelah pencucian tadi, tidak boleh tertinggal air kotor di antara ikan.
      Penyiangan dan pencucian menjadi lebih penting kalau ikan disimpan tanpa es.
.      Segera setelah dek/geladak bersih dari ikan, dek harus dicuci bersih, siap untuk menantikan naiknya tangkapan berikut.

PENGERTIAN PALKA

PALKA adalahsuatu ruangan yang terdapat dalam kapal untuk menyimpan ikan atau hasil tangkapan selama operasi penangkapan.
Palka berinsulasi adalah tempat menyimpan ikan hasil tangkapan di bagian dalam
kapal yang menyatu dengan badan kapal, dinding-dindingnya dicor dengan bahan
polyuretan. Palka seperti ini pada umumnya terdapat pada kapal-kapal ikan berukuran
besar (10 GT atau lebih).
Peti berinsulasi adalah palka berbentuk peti untuk kapal-kapal ikan berukuran
kecil (5 GT), dinding-dinding peti tersebut dicor dengan bahan polyuretan. Pen berinsulasi
tidak permanen, melainkan dapat dilepas dari kapal dan diangkat untuk dibersihkan.
Palka adalah suatu ruangan yang terdapat dalam kapal untukmenyimpan ikan hasil tangkapan selama operasi penangkapanikan. Ukuran palka disesuai dengan kemampuan kapalberoperasi dan menangkap ikan.
 
Persyaratan palka ideal :
) Persyaratan teknisi. Dinding palka diisolasiii. Tidak memasang alat-alat yang terbuat dari logam melaluidinding palkaiii. Kondisi penerangan dalam palka memadai.iv. Membatasi awak kapal keluar masuk palka.
2) Persyaratan ekonomisUkuran ruang palka disesuaikan dengan kemampuan kapal dalamberoperasi dan menangkap ikan. Adanya sistem refrigerasi palkadisesuaikan dengan lamanya operasi penangkapan
.3) Persyaratan sanitasi dan higienePalka harus mempunyai sistem sanitasi dan higiene yang baik.Palka harus mudah dibersihkan pada saat sebelum maupunsesudah penyimpanan ikan dan tidak terbuat dari bahan yangkorosif sehingga ikan yang disimpan di dalamnya aman daripencemaran bakteri atau kondisi-kondisi lain yang dapatmempercepat penurunan mutu ikan.
4) Persyaratan biologisPalka dibuat dengan drainase yang baik untuk mengeluarkan air,lelehan es, lendir, dan darah yang terkumpul di dasar palka.

Jenis-jenis palka:
:1) Palka yang tidak diisolasiUmumnya digunakan pada kapal penangkap ikan yangberukuran kecil dan lama operasinya hanya 1-2 hari
.2) Palka yang diisolasiUmumnya digunakan pada kapal penangkap ikan yangberukuran sedang dan lama operasinya 1 minggu.
3) Palka yang diisolasi dan direfrigerasiPalka kenis ini banyak digunakan pada kapal-kapal yangberukuran besar dan beroperasi selama 1 bulan atau lebih.

PENANGANAN HASIL TANGKAPAN

Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mudah membusuk. Hal ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang baru ditangkap dalam beberapa jam saja kalau tidak diberi perlakuan atau penanganan yang tepat maka ikan tersebut mutunya menurun.
Penanganan ikan basah harus dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya, dengan perlakuan suhu rendah dan memperhatikan faktor kebersihan dan kesehatan.
A. Penanganan Ikan Basah di Laut
Beberapa penanganan ikan segar sebelum sampai ke darat atau pelelangan ikan, menurut DKP (2008) yakni :
1. Ikan hasil tangkapan segera disemprot dengan air laut bersih sesaat tiba di geladak, kemudian dipisahkan dan dikelompokkan menurut jenis serta ukurannya.
2. Perlakuan yang dikenakan harus dapat mencegah timbulnya kerusakan fisik (ikan tidak boleh diinjak atau ditumpuk terlalu tinggi).
3. Ikan harus dilindungi terhadap terik matahari. Untuk itu, sebaiknya dipasang tenda atau atap yang melindungi tempat kerja dan wadak/palka pengumpulan.
4. Jika dilakukan penyiangan, maka harus dilakukan dengan hati-hati dan harus dihindarkan sayatan yang kasar, salah atau melukai daging.
5. Setelah penyiangan, ikan segera dicuci sampai benar-benar bersih, ditiriskan, baru kemudian siap didinginkan. Pencucian ikan dilakukan dengan air yang mengalir dan bersuhu rendah.
6. Pendinginan dilakukan dengan menyelubungi ikan dengan es hancuran dan suhu ikan dipertahankan tetap pada sekitar 0°C selama penyimpanan.
7. Tinggi timbunan ikan dalam wadah penyimpan maksimal 50 cm ( tergantung jenis ikan) agar ikan tidak rusak.
8. Jika pendinginan dilakukan dengan menggunakan air laut yang didinginkan, harus dilakukan sirkulasi air, baik secara mekanik maupu manual, agar terjadi perataan suhu dan terhindar dari penimbunan kotoran.
9. Hasil tangkapan diberi tanda dalam pengumpulan dan pewadahan berdasarkan perbedaan angkatan jaring atau hari penangkapan.
Bahan pengawet
a) Garam
Jenis garam antara lain adalah garam air laut dan garam tambang
 Garam air laut dibuat dari air laut yang diendapkanü
 Garam tambang dibuat dari hasil penambanganü
Kemurnian garam (impuritas)
Kandungan kotoran dan garam2 lain selain Nacl di dalam garam tersebut. Makin banyak kandungannya, makin rendah kadar Naclnya dan makin rendah kemurniannya. Pada umumnya garam air laut memiliki impuritas yang tinggi sedangkan garam tambang memiliki impuritas yang rendah.
Larutan mempunyai daya :
 Osmose : dapat menarik air dari tubuh ikan sehingga pertumbuhan bakteri terhambat. Garam ini bersifat antisepticü
ü Dalam kosentrasinya yang tinggi, garam dapat juga menarik air dari tubiuh bakterisehingga bakteri tersebut mati. Hal ini disebut Plasmolisa. Garam ini bersifat baktecide (membunuh bakteri)
b) Es
Mempunyai sifat hanya menghambat bakteri karena hanya dapat menurunkan suhun ikan sampai 00 C, suhu yang sama dengan titik lebur es. Es biasa digunakan untuk menjaga kesegaran ikan saja selama observasi penangkapan. Makin tinggi kesegaran ikan pada umumnya semakin tinggi pula harga ikan di tempat pelelangan sehingga pendapat nelayan semakin tinggi pula. Kelemahan es, es tidak dapat digunakan dalam operasi penangkapan yang lama.
B. Cara Pendinginan Ikan di Kapal
a. Palka (tempat penyimpanan ikan di kapal)
Bahan dan ukuran berbeda-beda disetiap jenis kapal penangkap
b. Ruang pendingin
Fasilitas ini hanya dapat ditemui di kapal-kapal besar. Ruang pendingin ini berfungsi sebagai tempat pengawetan ikan.
Cara pendinginan ikan di kapal
1. Kontak langsung
Ikan hasil perikanan yang ditangkap bersentuhan langsung dengan bahan pengawet atau pendingin yang kita gunakan.
2. Kontak tidak langsung
Ikan hasil perikanan yang ditangkap tidak bersentuhan langsung dengan bahan pengawet tetapi melalui perantara udara
Fase regormortis : ikan masih mempunyai kesegaran tinggi. Ikan besar lalu disiangi, dicuci, dipotong , menurut keperluan kemudian didinginkan. Ikan kecil lalu dicuci kemudian langsung didinginkan.
Menyusun atau menyimpan ikan yang akan didinginkan
1. Bulking
Ikan ditumpuk diruangan palka lapis demi lapis. Bagian dasr dan tepi palka diberi lapisan es yang telah dihancurkan. Ikan yang telah dibelah perutnya, disimpan dengan bagian perut yang telah dibelah menghadap ke bawah. Lapisan tidak boleh terlalu tebal dan terlalu rapat ditumpuk karena akan lambat dinginnya.
2. Selfing
Sama seperti bulking, tetapi tumpukan ikan hanya satu lapis. Keuntungan dari selfing ini yakni mutu ikan lebih baik, kehilangan berat akibat tekanan berkurang. Cara ini cocok dengan kapal-kapal long liner. Sedangkan kerugiannya memakan waktu, tempat, energi.

3. Boxing
Menggunakan peti dari kayu atau sintetik. Ikan disusun dalam peti dengan dicampur es, biasanya untuk ikan ukuran kecil. Peti yang dibuat dari kayu, kontruksinya harus rapat, kecil, permukaanya halus, mudah dibersihkan dan mudah disusun
Keuntungan :
- Ikan tidak banyak mengalami lukakarena tekanan
- Tidak terlalu banyak kerja ketika membongkar.
C. Cara Pembongkaran Hasil Tangkapan
Selain cara penanganan ikan setelah dilakukan penangkapan, ikan yang telah di simpan dalam wadah dilakukan pembongkaran. Ikan yang yang akan dibogkar juga harus dilakukan dengan bai dan benar agar tidak merusak ikan baik fisik maupun biologi ikan. Adapun cara pembongkaran hasil tangkapan yakni :
1. Sewaktu membongkar muatan, hendaknya dipisahkan hasil tangkapan yang berbeda hari atau waktu penangkapannya.
2. Harus dihindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan kerusakan fisik, seperti sekop, garpu, pisau dan lain-lain.
3. Pembongkaran muatan harus dilakukan secara cepat dengan mengindarkan terjadinya kenaikan suhu ikan.
D. Penanganan Ikan Basah di Darat
Pada saat dibongkar dari perahu, kapal atau kendaraan, sebelum dilelang atau dijual, sebaiknya ikan dalam wadah masih diselimuti es, agar tidak meningkat suhunya. Ikan tidak boleh dicuci dengan air kotor atau air tercemar lainnya. Di tempat pendaratan, pengumpulan, pelelangan dan pengepakan, selama menunggu perlakuan berikutnya, ikan tidak boleh diletakkan di lantai dan sebaiknya ikan ditaburi es. Setelah selesai penjualan atau pelelangan, ikan harus segera dikelompokkan menurut jenis, ukuran dan mutu kesegarannya. Jika ikan disiangi, maka sepanjang kegiatan penyiangan dan pencucian harus digunakan es hancuran yang cukup agar ikan tidak membusuk karena kenaikan suhu.
1. Penanganan Selama Pengangkutan dan Distribusi
Selama pengangkutan dan distribusi, suhu ikan harus senantiasa rendah, alas wadah harus dilapisi es halus kemudian lapisan ikan yang ditaburi es disusun diatasnya. Diatas dan dibawah tumpukan peti ikan harus diberi lapisan es yang lebih tebal.
2. Penanganan Ikan Basah Selama Penjualan dan Pengeceran
Selama penjualan dan pengeceran, ikan harus dipertahankan suhunya tetap rendah, yaitu sekitar 0°C, dengan cara melapisinya dengan es halus. Ikan harus ditempatkan khusus, terpisah dari produk pangan lainnya. Harus dilindungi terhadap pengaruh panas matahari, debu, serangga, binatang pengerat dan kotoran lainnya.
Ikan-ikan disusun dalam lapisan yang tipis, diatas dan dibawahnya ditaburi es halus.
3. Ciri-ciri Ikan Segar
Untuk melihat secara fisik ikan yang masih segar bentuk yakni ikan yang ditangani dengan baik hingga kekonsumen yakni :
 Rupa dan warna ikan secara keseluruhan masih cerah, mengkilap spesifik sesuai jenis ikan.ü
 Lendir yang tipis, bening dan encer menyelubungi tubuh ikan baunya normal dan khas jenis ikan.ü
 Sisik melekat kuat-mengkilat dengan warna atau tanda khusus sesuai jenis ikan.ü
 Mata cemerlang, cembung, beninüg, pupil bitam dan tidak banyak berdarah.
 Daging kenyal, jika dipijat, bekas pijatan tidak nampak.ü
 Insang berwarna merah cerah khas menurut jenis ikan, tertutup lendir yang tipis, bening dan berbau segar.ü
 Bagian perut masih kuat, tidak pecah dan lubang dubur tertutup.ü
Penyusunan ikan dalam palka dilakukan dengan 3 cara :
a. Bulking
Ikan ditumpuk dalam ruangan palka lapis demi lapis. Dasar dibari es yang telah dihancurkan kurang lebih tebalnya 15 cm. Ikan dibelah perutnya disimpan dengan bagian perutnya di bawah agar air/cairan tidak tertampung dalam perutnya tapi mengalir ke dasar palka.
Lapisan ikan tidak boleh terlalu tebal agar pendinginannya merata. Cairan dari pelelehan es diusahakan tidak mengalir ke lapisan bawahnya. Jadi diberi kemiringan pada lapisan dasar agar air dapat mengalir ke pinggir lalu dibuang.
b. Shelfing
Dengan satu lapisan ikan dalam satu rak. Sekat ini dipasang dengan jarak sekitar 20cm. Kelemahan dari cara ini akan memakan waktu, tenaga dan ruang palka.
c. Boxing
Menggunakan peti-peti / box yang terbuat dari kayu, pastik, bahan sintetis. Dan juga bahan aluminium yang cenderung lebih baik karena mudah di kontrol dan dibersihkan. Kelebihan alat ini kualitas/mutu ikan lebih baik karena ikan tidak mendapatkan tekanan dan beratnya tidak berkurang. Selain itu saat pembongkaran juga jadi elbih mudah dan cepat. Kerugiannya terlalu banyak memkan tempat di dalam kapal.
PEMBUSUKAN
Sering kali makanan yang kita buat atau kita beli jika disimpan dalam waktu yang lama membuat makanan itu basi. Istilah basi yang akrab di telinga kita merupakan proses dari pembusukan makanan, bahasa kerennya spoilage food.

Pembusukan makanan adalah rusaknya nilai gizi, tekstur, serta rasa dari makanan sehingga tidak layak dikonsumsi karena berbahaya bagi kesehatan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan pembusukan pada masakan, yaitu:


  1. Mikroorganisme
Ada tiga jenis mikroorganisme yang menyebabkan pembusukan pada makanan:
  • Ragi (yeast)
Ada dua jenis ragi, true yeast dan false yeast. Kalau mendengar kata ragi, pasti pembaca semua ingat dengan proses pembuatan roti. Ya, ragi memang digunakan dalam proses pembuatan roti untuk mendapatkan proses yang disebut dengan fermentasi, yakni proses yang menghasilkan alcohol dan karbon dioksida. Ragi yang menghasilkan proses fermentasi ini disebut true yeast sedangkan false yeast biasa tumbuh dipermukaan makanan yang kering, pada makanan yang mengandung kadar gula tinggi, serta kadar asam yang tinggi
  • Jamur
Jamur pada makanan dapat menyebabkan penyakit. Biasanya gejala yang ditunjukkan akibat keracunan makanan berjamur seperti mual serta pusing. Jamur dapat tumbuh pada makanan jika makanan dala suhu yang sesuai. Biasanya suhu yang lembab meyebabkan makanan mudah berjamur. Meletakakkan makanan pada ruang terbuka tanpa ditutup rapat juga merupakan factor yang menyebabkan makanan ditumbuhi oleh jamur.
  • Bakteri
Bakteri tumbuh pada makanan yang kadar keasamannya rendah, seperti pada sayuran dan buah - buahan. Bakteri tumbuh dengan cepat pada suhu kamar (suhu ruangan biasa) yakni 250C. Maka dari itu untuk menghindari tumbuhnya bakteri pada makanan, maka makanan disimpan pada suhu di bawah 50C atau dipanaskan pada suhu di atas 600C.



2. Ontolisis
Mungkin istilah ontolisis masih terlalu asing di telinga kita. Ontolisis adalah proses pembusukan makanan dikarenakan zat yang terkandung dalam makanan itu sendiri dan adanya reaksi kimia antara zat yang dikandung dalam makanan dengan oksigen di udara sekitar.
  • Enzim
Enzim dalam makanan dapat menyebabkan makanan tersebut berubah warna, tekstur, serta aromanya. Enzim juga mudah rusak dengan adanya proses memasak yakni jika dipanaskan. Enzim merupakan protein, jadi terkandung dalam makanan – makanan yang sering kita masak seperti daging, telur, susu, dan lain – lain.
  • Oksidasi oleh udara
Bahan makanan seperti daging lama – kelamaan akan berbau anyir (amis) jika tidak diletakkan pada tempat yang tepat seperti freezer. Hal ini dikarenakan adanya reaksi komponen yang terdapat dalam daging dengan udara disekitarnya.
3. Faktor – faktor lain
Faktor – faktor lain yang menyebakan pembusukkan pada makanan adalah misalnya terkontaminasi oleh serangga (kecoa, semut, dll) serta tikus. Suhu juga sangat berpengaruh terhadap kondisi makanan, misalnya kentang yang sudah dikupas akan berubah warnanya jika diletakkan begitu saja di tempat yang suhunya ti[dak sesuai.









































TUGAS PENGOLAHAN DAN PENANAGAN  HASIL TANGKAP

(PPHT)





OLEH:




Kelompok 5, kelas II NKPI


SMKN  PADANG
2012


Kritik dan Sarannya silakan

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates