Sunday, 17 November 2013

Contoh Bahan Kimia Pembersih –



Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa terdapat banyak sekali bahan kimia yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Satu di antaranya adalah pembersih. Kita menggunakan berbagai macam pembersih untuk membersihkan badan, pakaian, lantai, piring, hingga kamar mandi. Apakah pembersih itu? Pembersih adalah bahan yang berfungsi untuk membantu mengangkat dan melarutkan kotoran yang melekat pada suatu benda. Kita dapat mengelompokkan bahan kimia sebagai pembersih berdasarkan kemasannya masing-masing. Setiap produk biasanya dibungkus dalam kemasan yang berbedabeda.
Dari kemasan inilah kita dapat mengetahui komposisi kandungan bahan-bahan kimianya. Masing-masing pabrik akan memberikan kemasan yang semenarik mungkin sehingga konsumen tertarik untuk menggunakannya. Misalnya saja, sabun mandi produk pabrik A dengan sabun mandi produk pabrik B, atau sampo produk pabrik P dengan sampo produk pabrik Q samakah kemasan dari kedua produk ini? Tentu tidak, bukan?
Bagaimana dengan bahan kimia yang terkandung di dalam masing-masing jenis pembersih itu? Samakah antara satu dengan lainnya? Pada dasarnya setiap jenis produk pembersih mempunyai bahan kimia utama yang sama satu dengan yang lain. Namun demikian, umumnya produsen menambahkan bahan-bahan tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tujuannya adalah untuk memberi kelebihan atau keistimewaan pada jenis produk pembersih yang dihasilkannya. Berikut ini adalah daftar pembersih dan kandungan utama bahan kimia di dalamnya.
Tabel 12.1 Kandungan Bahan Utama dalam Pembersih
Jenis Pembersih
Kandungan Bahan Kimia Utama
Sabun mandiSabun colek (cuci)
Pencuci tangan
Bubuk detergen
Pencuci peralatan dapur
Pembersih lantai Asam
Krim pencukur
Pasta gigi
Sampo
Pembersih muka
Kalium palmitat atau kalium stearatNatrium palmitat atau natrium stearat
Natrium palmitat atau natrium stearat
Linear alkil sulfonat (LAS)
Linear alkil sulfonat (LAS)
klorida atau benzalkonium klorida
Kalium stearat dan natrium stearat
Natrium lauril sulfat
Natrium lauril eter sulfat
Kalium palmitat atau kalium stearat
Bahan kimia utama dalam pembersih sering disebut sebagai bahan aktif. Bahan aktif ini berfungsi sebagai surfaktan. Selain bahan kimia utama tersebut, tentu saja masing-masing produk pembersih mendapatkan tambahan bahanbahan yang dapat mengoptimalkan fungsi produk tersebut sesuai dengan tujuan penggunaannya. Misalnya air, aroma, pengental, alkohol, garam dapur, minyak atsiri, mineral, bahan pencemerlang, bahan untuk mempertahankan warna, penguat (builder), pelembut, pewarna, pewangi, pengawet, dan sebagainya. Jika tabel di atas kita amati dengan saksama, ternyata dari sekian banyak jenis pembersih yang kita gunakan sehari-hari hanya ada dua komponen utama, yaitu komponen sabun dan komponen detergen. Komponen sabun, yaitu natrium stearat dan natrium palmitat pada sabun cuci atau kalium stearat dan kalium palmitat pada sabun mandi. Komponen detergen, yaitu linear alkil sulfonat, natrium lauril sulfat, dan bahan kimia lain seperti asam klorida.
Untuk mengatasi kotoran yang membandel diperlukan bahan-bahan pembersih. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, komponen utama pembersih adalah sabun dan detergen. Samakah sabun dan detergen itu? Untuk mengetahui lebih dalam tentang kedua jenis komponen tersebut, berikut ini adalah uraiannya.
a. Sabun
Lebih dari 2.000 tahun yang lalu orang sudah mengenal sabun. Orang pada saat itu mengenal sebuah proses yang disebut saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi antara minyak atau lemak, baik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (nabati) maupun yang berasal dari hewan (hewani) dengan basa-basa tertentu yang dihasilkan dari abu (alkali) tumbuh-tumbuhan (natrium hidoksida dan kalium hiodroksida). Reaksi ini ternyata dapat menghasilkan sebuah senyawa yang dapat digunakan untuk membersihkan kotoran yang kemudian dikenal sebagai sabun, serta senyawa berasa manis yang disebut olsuss yang kemudian disebut sebagai gliserol. Gliserol ini dimanfaatkan lebih lanjut untuk bahan peledak, pelarut, dan sebagainya.
Minyak nabati yang biasa digunakan biasanya berupa minyak kelapa, minyak sawit, minyak biji kapas, minyak jarak, minyak zaitun, minyak kedelai, dan minyak jagung. Minyak dan lemak hewani yang biasa digunakan biasanya berupa minyak ikan, lemak kambing atau domba, lemak sapi, dan lain-lain.
Berdasarkan kandungan basa yang terdapat di dalamnya, sabun dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu sabun lunak dan sabun keras.
1) Sabun lunak
Sabun lunak adalah sabun yang mengandung ion kalium karena dalam proses pembuatannya, basa yang digunakan adalah kalium hidroksida (kaustik potas). Sabun jenis ini disebut sabun lunak karena memang kalium hidroksida memiliki sifat pemutih (bleaching) yang lebih lunak daripada natrium hidroksida yang digunakan pada sabun keras. Contoh sabun lunak adalah semua produk sabun mandi, sampo, dan pasta gigi. Proses pembuatannya melibatkan reaksi kimia berikut ini.
kalium hidroksida + gliserol tristearat → kalium stearat (sabun mandi) + gliserol
Atau
kalium hidroksida + gliserol tripalmitat →kalium palmitat (sabun mandi) + gliserol
Lalu, mengapa sabun dan sampo orang dewasa pedih di mata sedangkan sabun dan sampo bayi tidak? Pada dasarnya masing-masing produsen pembersih jenis sabun lunak berusaha menciptakan produk seistimewa dan semenarik mungkin. Sabun atau sampo yang pedih di mata berarti memiliki kandungan kalium lebih tinggi daripada yang tidak pedih di mata. Sampo dengan kandungan kalium lebih tinggi memiliki daya bersih yang lebih tinggi. Pada sabun atau sampo bayi kandungan kaliumnya dibuat lebih rendah karena digunakan untuk kulit yang masih sensitif. Akan tetapi, walaupun daya pembersihnya lebih rendah, sabun ini aman dan cukup efektif untuk membersihkan kulit bayi.
Selain kandungan basa yang berbeda-beda, jenis dan jumlah minyak dan lemak yang digunakan dalam pembuatan jenis sabun lunak ini juga memengaruhi sifat-sifat fisik sabun. Sifat fisik itu meliputi keras dan lunaknya, jumlah busa yang dihasilkan, warnanya transparan atau tidak, kelarutan dalam air, dan lain-lain. Tambahan bahan-bahan lain seperti minyak atsiri, vitamin, mineral, parfum, pewarna, mint dan esens atau pemberi rasa pada pasta gigi, dan lain-lain akan mempertinggi kegunaan dan menambah daya tarik pembersih yang termasuk ke dalam sabun lunak ini.
2) Sabun keras
Sabun keras adalah sabun yang mengandung ion natrium, karena dalam proses pembuatannya digunakan natrium hidroksida (soda api atau kaustik soda). Natrium hidroksida merupakan basa yang lebih keras daripada kalium hidroksida. Daya pemutihnya sangat iritatif (bersifat melukai) terhadap kulit. Oleh karena itu, sabun jenis ini tidak cocok untuk membersihkan tubuh, kecuali bagian-bagian tertentu seperti telapak tangan yang memang berkulit lebih tebal. Contoh sabun keras adalah sabun colek (sabun krim). Proses pembuatan sabun keras melibatkan reaksi kimia berikut ini.
natrium hidroksida + gliserol tristearat → natrium stearat (sabun colek) + gliserol
Atau
natrium hidroksida + gliserol tripalmitat → natrium palmitat (sabun colek) + gliserol
Selain kedua jenis sabun tersebut, terdapat juga jenis sabun yang merupakan campuran antara sabun keras dan sabun lunak, misalnya krim pencukur. Penggunaan sabun keras pada krim ini dimaksudkan untuk melunakkan kulit, sehingga rambut yang menempel di atasnya, seperti cambang, kumis, janggut, atau bulu kaki lebih mudah dibersihkan.
b. Detergen
Komponen pembersih utama berikutnya adalah detergen. Dewasa ini hampir semua jenis pembersih menggunakan detergen. Dahulu orang mengandalkan sabun sebagai bahan pembersih satu-satunya yang paling andal. Tetapi kemudian diketahui bahwa pada air yang memiliki kadar garam tinggi (air sadah) dan air yang dingin penggunaan sabun ternyata tidak efektif. Di dalam air ini biasanya terkandung ion kalsium atau ion magnesium yang menyebabkan daya pembersih sabun menjadi berkurang. Hal ini dikarenakan ion kalium atau ion magnesium dalam air sadah menggantikan posisi ion natrium atau ion kalsium pada molekul sabun. Oleh karena itu, orang kemudian berusaha menciptakan bahan pembersih yang memiliki daya pembersih efektif di dalam semua jenis larutan. Sampai pada sekitar tahun 1940-an akhirnya orang berhasil menciptakan detergen.
Bahan dasar detergen adalah alkil benzena sulfonat atau sering disingkat ABS. Dibandingkan dengan sabun, detergen memiliki daya cuci lebih baik karena tetap efektif untuk mencuci walaupun dengan menggunakan air sadah maupun air dingin. Supaya kotoran yang terlepas tidak kembali menempel, biasanya ditambahkan zat kimia tertentu yang disebut anti-redeposisi. Contoh zat anti-redeposisi adalah metil karboksi selulosa.
Bahan Kimia Pembasmi Serangga (Insektisida)
Serangga pengganggu yang sering kita jumpai di rumah
tangga, diantaranya adalah nyamuk, kecoa, lalat, dan semut.
Nyamuk adalah serangga pengganggu di rumah tangga
yang paling dominan terutama di kota-kota dataran rendah.
Oleh karena itu anti nyamuk (obat nyamuk) merupakan
bahan yang diperlukan masyarakat sehari-hari.

Anti nyamuk dikemas sesuai dengan cara-cara aplikasinya; ada
yang dibakar, difumigasi secara elektrik, dioleskan pada
permukaan kulit, dan disemprotkan. Khasiat dari bahan
pengusir atau pembasmi serangga ditentukan oleh bahan
kimia (bahan aktif) yang terkandung di dalamnya.


Transflutrin adalah salah satu contoh bahan aktif anti nyamuk
berbentuk padatan lingkar berwarna hijau. Anti nyamuk
bakar ini diambil khasiatnya melalui asapnya yang
menyebar ke seluruh ruangan.


Kamu dapat mengidentifikasi bahan kimia aktif yang
terkandung pada setiap anti nyamuk yang beredar di
masyarakat dimana kamu tinggal. Jangan membuang begitu
saja wadah atau kemasan anti nyamuk yang pernah kamu
pakai. Kemasan anti nyamuk, juga produk-produk lain
umumnya mencantumkan bahan-bahan kimia yang
dikandungnya. Kamu dapat mengidentifikasi bahan-bahan
kimia penyusun setiap produk dari kemasannya.


Saat ini mulailah dengan mengenal nama-nama bahan
kimia itu. Kalau saat kamu tidak mengetahui rumus
kimianya, tidak masalah, yang penting mengetahui
khasiatnya. Selain itu, yang juga penting untuk diketahui
adalah efek samping yang dapat ditimbulkan terutama bagi
kesehatan kita maupun kelestarian lingkungan. Oleh karena

itu, perusahaan-perusahaan besar yang bijaksana selalu
memberi peringatan-peringatan kepada kita terkait dengan
penggunaan bahan-bahan ini.
i.

Efek Samping Penggunaan Dan Pencegahan Bahan Pembersih,Pemutih,Pewangi,Dan Pembasmi Serangga

26 09 2010
1) Bahan Pembersih
Bahan pembersih mengandung bahan kimia antara lain natrium karbonat atau natrium hidroksida dan silica. Apabila bahan ini terminum maka dapat menimbulkan radang pada mukosa mulut dan muntah-muntah. Sedangkan yang mengandung alkyl benzene sulfonat (deterjen) akan menyebabkan alergi pada kulit sensitive. Selain itu bahan ini meruuuupakan zat pencemar air, karena sukar diuraikan oleh mikroorganisme dalam air. Untuk bahan pembersih yang mengandung PCE dapat menyebabkan asma dan alergi bahkan yang lebih parah kanker hati.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan bahan pembersih sesuai dengan aturan dan memilih produk deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu,untuk yang menggunakan PCE pakaian yang di dry clean harus diangin-anginkan dulu agar bahan kimia tersebut menguap.
2) Bahan Pemutih
Bahan pemutih yang mengandung natrium hipoklorit dapat menimbulkan radang pada mukosa mulut,muntah-muntah,iritasi pada kulit dan sakit kepala. Oleh karena itu,penggunaannya tidak boleh berlebihan dan harus sesuai dengan aturan pemakaian
3) Bahan Pewangi
Bahan pewangi yang mengandung benzeldehid dapat menyebabkan radang pada mulut,tekak,mata,kulitparu-paru dan sakit perut sedangkan yang mengandung benzyl alcohol dapat menyebabkan radang pada bagian atas system pernafasan,pusing,muntah,anemia, dan kegagalan fungsi pernafasan.
4) Pembasmi serangga/insektisida
Insektisida yang digunakan hampir setiap hari dapat merusak kesehatan penghuni rumah jika melebihi aturan pemakaian. Bahan ini mengandung racun golongan “Piretrol” yang sesungguhnya berkadar rendah dan dapat diuraikan tubuh, termasuk obat anti nyamuk baker yang merupakan ekstrak dari bunga krisan. Namun dalam dosis tertentu dapat menyebabkan gejala mual dan muntah oleh sebab itu, perlu diperhatikan cara pemakaian insektisida yang benar.Apabila menggunakan insektisida cair atau semprot, kosongkan ruangan terlebih dahulu dan biarkan selama setengah sampai satu jam agar uapnya menghilang. Aroma yang kuat dari bahan kimia ini dapat mengganggu pernafasan terutama pada penderita asma. Disamping itu, insektisida semprot harus disimpan ditempat yang aman. Hal ini disebabkan karena obat anti nyamuk aerosol atan bertekanan tinggi dapat meledak pada suhu 50 0C. Obat anti nyamuk tersebut jangan ditusuk, jangan disimpan ditempat yang panas,di dekat api atau dibuang ditempat pembakaran sampah.
Sementara itu untuk obat anti nyamuk lotion hindari pemakaian yang berlebihan,gunakan pada kulit terbuka yang tidak ditutupi pakaian bahan ini jangan digunakan langsung diwajah. Apabila terjadi iritasi hantikan pemakaian, cuci dengan air dan lakukan perawatan menurut gejala yang timbul.
smoga bermanfaat : . . .
Kalau ada yang kurang tambahin ya, di komentar
tank you !



Kritik dan Sarannya silakan

2 comments:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates